DUA ZAMAN SATU PERJUANGAN

Aroma minyak tanah dari lampu cempor berpadu dengan wewangian khas kitab kuning tua. Aroma ternyaman di dunia bagi seorang santri muda yang kini sedang berjuang menuntut ilmu. Ia adalah Imron Hamzah, remaja tujuh belas tahun yang malam itu sedang komat-kamit menghafal bait Alfiyah Ibnu Malik yang mendadak terasa sulit menempel di kepala.Di kanan-kirinya, suasana bilik bambu Pesantren Tebuireng terdengar cukup ramai. Para santri sibuk menghafal dengan suara berdengung riuh.

Namun, ketenangan malam itu terasa berbeda. Sudah sebulan terakhir, angin membawa kabar kurang mengenakan di telinga dari arah utara. Rumor-rumor kembalinya tentara Sekutu yang diboncengi serdadu NICA di Pelabuhan Surabaya membuat suasana obrolan memanas di sela-sela waktu mengaji. Jiwa muda para santri bergejolak hebat. Mereka seperti sedang berdiri di persimpangan jalan antara tetap tinggal di pondok menjaga lembaran kitab, atau justru siap angkat senjata karena kabarnya bom-bom mulai berjatuhan di kota tetangga.

Malam itu, 22 Oktober 1945, ketegangan yang tertahan akhirnya pun pecah. Begitu azan Isya berkumandang, halaman pesantren yang biasanya tampak sunyi mendadak dipadati ratusan santri dari berbagai daerah. Obor bambu dinyalakan silih bergantian. Cahaya merahnya menyinari wajah yang biasanya penuh canda tawa. Namun, tawa itu kini mendadak berubah kaku dan serius. Di barisan terdepan, berdiri sosok karismatik yang kehadirannya seketika membungkam bisik-bisik malam. Ia adalah Hadratussyekh KH. Hasyim Asy’ari yang saat itu sedang berpidato di depan.

Begitu resolusi suci dikumandangkan, sebuah maklumat tegas yang mewajibkan setiap jiwa angkat senjata demi bumi pertiwi, semangat Imron seketika menggebu-gebu. Semboyan “Hubbul Wathon minal Iman” seakan mengguncang dadanya menegaskan bahwa membela tanah air merupakan bukti realistis keimanan yang luhur.

Ucapan sang kyai bukan sekedar pidato belaka, namun sebuah seruan suci yang menancap di hati. Jiwa Imron bergetar hebat. Padahal di balik kantong baju kokonya yang mulai lusuh terdapat sepucuk surat pemberian ibunya. Sang ibu berpesan agar ia fokus belajar, menjaga diri baik-baik, dan lekas pulang untuk mengajar anak-anak mengaji. Hatinya sempat bimbang. Ibunya hanya memiliki dia seorang di dunia ini. Namun, melihat air mata menetes di sela-sela gumaman takbir temannya yang sibuk mengasah bambu runcing akhirnya runtuh pula kebimbangan Imron. Esok subuh, setelah mencium tangan sang kyai, ia menyelipkan pisau runcing tua peninggalan almarhum ayahnya ke balik sarung kotak-kotak kesayangannya. Imron melangkah mantap naik ke atas truk kayu terbuka yang bergerak menuju medan perang di Surabaya.

Surabaya menyambut Laskar Hizbullah dengan atmosfer yang cukup mencekam. Barikade yang tersusun dari tumpukan karung pasir, ban bekas, hingga kendaraan bekas berdiri di setiap persimpangan jalan. Pemuda-pemuda lokal dengan ikat kepala kain merah putih berpatroli dengan mata waspada, menggenggam apa saja yang bisa digunakan untuk bertahan hidup, mulai dari celurit, pedang rampasan, hingga senapan tua.

Imron dan rombongan santri Tebuireng menempati sebuah pos pertahanan darurat yang hanya berjarak beberapa ratus meter dari kawasan Jembatan Merah. Ketika malam tiba, keheningan kota seketika robek oleh gemuruh yang memekakkan telinga. Pasukan sekutu memulai serangan tanpa aba-aba. Bagai hujan api yang turun dari langit, rentetan ledakan-ledakan beruntun menghancurkan bangunan di sekeliling pos Imron. Telinganya berdenging hebat. Bau belerang dan abu semen yang hancur seketika menyumbat pernapasannya.

“Tiaraaaap! Gak usah ndelok mendhuwur reekkk! Slametno awakmuu!,” teriak komandan laskar dengan dialek khas Jawa timurnya, berusaha mengalahkan suara gemuruh ledakan-ledakan.

Imron merangkak dengan panik, mencari perlindungan di balik sisa reruntuhan tembok bata. Tepat di sampingnya ada Sholeh, sahabat karibnya sejak pertama kali mondok meringkik kesakitan dengan suara tertahan. Paha kiri Sholeh bersimbah darah, terkoyak oleh pecahan beton yang tajam.

Baca Juga :  Aku Ingin Menjadi Orang Bodoh

Rasa takut menyelimuti raga Imron, membuat ototnya terasa kaku. Musuh di seberang sana bergerak dengan tank-tank baja. Sementara di tangannya? Hanya sebilah pisau runcing tua dan sebatang bambu yang mulai terasa licin sebab keringat dinginnya. Untuk pertama kalinya dalam hidup, Imron menatap maut begitu dekat. Bayangan wajah ibunya yang sedang memasak di dapur mendadak melintas, memicu keinginan kuat untuk berbalik arah dan pulang ke bilik pesantren yang damai.

“Mron, gak usah wedi,” bisik Sholeh dengan bibir memucat, mencoba tersenyum di tengah ringisannya. “Mati ndek kene gak popo, insyaallah khusnul khatimah.” Ucapan Sholeh seketika membuat Imron sadar. Seruan Hadratussyekh kembali terngiang jelas di kepalanya. Ini bukan soal pertempuran fisik semata, namun perjuangan suci demi menjaga martabat bangsa dan agama.

Rasa takut yang tadinya mencengkram dada Imron mendadak hilang tanpa bekas. Kebimbangan pun habis terbakar dan tergantikan ledakan rasa keberanian yang luar biasa. Ketika ujung tank musuh mulai menembus barikade terdepan dan bayang-bayang tentara lawan pun mulai nampak di balik kepulan asap, Imron berdiri tegak di atas reruntuhan. Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh energinya, lalu melontarkan satu pekikan yang membelah malam.

“Allahu Akbar! Merdeka… merdeka…”

Pekikan Imron bertindak bagaikan pemantik. Semangat juang ratusan pemuda dan santri seketika kembali membara. Mereka keluar dari tempat persembunyian, menerjang maju tanpa rasa gentar, mengandalkan kegigihan serta spiritual yang tinggi. Laskar Hizbullah bertempur habis-habisan hingga fajar menyingsing. Mereka berhasil memukul mundur pasukan modern tersebut untuk menata ulang barisannya. Lini pertahanan Jembatan Merah berhasil dipertahankan malam itu.

Delapan puluh satu tahun kemudian… 

Suara gemuruh tepuk tangan yang riuh membuyarkan lamunan seorang lelaki tua yang duduk di atas kursi roda di tepi lapangan upacara. Lelaki itu adalah Imron Hamzah, atau kini yang dihormati para santri dengan sebutan Kyai Imron. Kulit wajahnya sudah keriput dimakan usia yang mendekati satu abad. Namun, sepasang matanya masih menyimpan memori tajam yang sama seperti saat ia berada di Surabaya dulu.

Hari ini adalah momen istimewa. Pondok Pesantren yang ia dirikan dengan susah payah pasca kemerdekaan, kini dinobatkan sebagai Pesantren Unggulan Nasionaldalam ajang bergengsi Pesantren Award. Di atas panggung, tiga orang santri didikannya berdiri tegap. Mereka baru saja memenangkan medali emas olimpiade sains internasional berkat inovasi teknologi pengelolaan air bersih mandiri untuk warga desa.

Di latar belakang panggung, sebuah layar digital raksasa memancarkan cahaya terang dengan tulisan mencolok, selaras dengan tema Hari Santri Nasional: “Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas”.

Seorang santri panitia yang berdiri di dekatnya berbisik takzim, “Mbah Yai, niki loh santri-santri panjenengan angsal juara setunggal”. Kyai Imron tersenyum haru mendengar ucapan santrinya, matanya berkaca-kaca menatap panggung. Ia merasakan detak jantungnya yang masih menyimpan semangat membara yang sama dengan remaja tujuh belas tahun di Surabaya dulu. Kini, ia melihat jihad telah bertransformasi. Santri-santrinya di pondok kini bertempur menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menguatkan negeri.

Kyai Imron mengusap air mata yang perlahan jatuh dari sudut matanya. Zaman boleh berubah dan cara perjuangan boleh berbeda, tetapi semangat para santri tetap sama. Semangat perjuangan resolusi jihad yang dulu dibawa dari Jombang, kini terlihat dalam prestasi para santri yang ikut membawa Indonesia menuju masa depan yang lebih baik.

Oleh: Nakhwa Urfa

Share your love
Tim Multimedia PP. Al Anwar 3
Tim Multimedia PP. Al Anwar 3

Website dikelola oleh Tim Multimedia Pondok Pesantren Al Anwar 3 Sarang

Articles: 217

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *